Tentang Inner Child dan Kembali ke Sisi Kecil nan Polos Diri Kita

Mei 11, 2024



Pernah gak sadar kalo kita merasa seperti bukan diri kita sendiri? Nah, itulah salah satu tanda kalau inner child kita terluka, mulai terlupakan. Mungkin saja kita melakukan hal itu agar diterima atau untuk memenuhi ekspektasi dari orang lain. Padahal, hal itu justru semakin membuat kita merasa tidak nyaman dan semakin jauh dari diri kita sendiri.

Saat gue kecil, gue hampir tiap hari bersama inner child gue—main, tertawa, dan mengeksplorasi dunia kanak-kanak gue. Tapi seiring bertambahnya usia, gue sibuk dengan tugas-tugas ketika masuk ke sekolah, dan akhirnya berkembang menjadi sosok dewasa yang serius. Gue jadi merasa bahwa inner child gue itu mulai hilang.

Tidak ada yang salah dengan menjadi sosok dewasa, tapi gue sadar bahwa kebahagiaan hidup gue menurun drastis. Gue merasa sering cemas, lelah, dan kurang semangat. Hingga suatu saat, gue menyadari bahwa inner child gue itu masih ada di dalam diri gue. Gue hanya perlu menemukannya dan membuat koneksi kembali dengan diri gue semasa kecil.

 

Apa Itu Inner Child Dan Mengapa Penting Untuk Menghubunginya Ke Dalam Diri Kita Sendiri?



Inner child sebenarnya adalah konsep psikologi yang cukup populer di kalangan para ahli dan beberapa orang yang tertarik dengan kesehatan emosional. Inner child adalah sosok dalam diri kita yang merupakan representasi dari keadaan murni, bebas, dan tanpa terpengaruh oleh pengalaman traumatis atau penyimpangan perilaku. Mereka mewakili masa kecil kita yang tidak terlalu banyak terbebani oleh tanggung jawab dan tuntutan kehidupan yang dewasa.

Sebenarnya, inner child yang sehat akan membantu kita menghadapi masalah dan konflik dengan cara yang lebih fleksibel dan kreatif. Inner child dapat membantu kita untuk mengalihkan perhatian dari kecemasan atau ketegangan dalam hidup dan malah membantu kita menemukan kebahagiaan dan kepuasan. Inner child mengajari kita untuk bermain, bermimpi, dan hidup dengan spontan, enerjik, serta menerima diri sendiri dan orang lain tanpa predikat atau penilaian.

Penting untuk mengharmoniskan hubungan kita dengan inner child dalam diri kita sendiri, karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi kita untuk tidak menjalin hubungan yang sehat dengan inner child kita. Ada kecenderungan kita mengesampingkan keinginan atau kebutuhan kita terhadap kekhawatiran dan tanggung jawab dalam kehidupan kita. Kehidupan yang penuh tekanan, hiruk pikuk, dan tekanan bisa membuat kita lupa pada kebutuhan hati dan sesuai dengan identitas kita.

Untuk itu, gue rasa penting bagi kita untuk terus mencari cara untuk menemukan kembali dan memelihara hubungan dengan inner child kita. Menemukan kembali kesederhanaan dan kebahagiaan dalam hidup yang kadangkala hilang dalam keseharian kita sebagai orang dewasa, dapat kembali ditemukan dengan bantuan dari inner child dalam diri kita. Dengan menjalin hubungan yang positif dan sehat dengan inner child, kita dapat mengembalikan kebahagiaan dan memperoleh kebebasan hidup yang kita inginkan.

 

 

Nah, Gimana Sih Caranya Untuk Merawat Inner Child Kita?



Untuk mengembalikan kreativitas dan kepolosan dalam hidup dewasa kita, ada beberapa cara yang dapat dilakukan, diantaranya:


1. Bermain

Coba cari waktu sehari-hari untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan dan spontan. Mainlah dengan keponakan, teman-teman atau bahkan piaraan kesayangan kita, seolah-olah kita sedang berada dalam masa kecil lagi. Permainan sederhana seperti menyusun balok, berenang, atau membuat ilustrasi di buku gambar bisa membantu kita membebaskan imajinasi dan kreativitas kita.


2. Jelajahi kembali kegemaran masa kecil

Apa hal yang selalu kita sukai dan ingin lakukan saat masih kecil? Apa yang pernah kita lakukan sampai lupa waktu? Cobalah untuk mengulanginya atau mencari aktivitas serupa yang mirip dengan kesukaan kita saat masa kecil. Hal semacam ini dapat membantu kita mereset kembali prioritas hidup dan mengingatkan nilai-nilai kepolosan yang kadangkala terlupakan.


3. Menghabiskan waktu berimajinasi

Berimajinasi dan bermimpi adalah salah satu cara paling efektif untuk memelihara kreativitas dalam diri kita. Cobalah untuk menghasilkan ide atau cerita-cerita sederhana dan abstrak yang kemudian kita olah lebih lanjut ke dalam ide kreatif yang konkrit. Kita bisa mencatat ke dalam catatan harian atau kertas kosong dan memulai pekerjaan kreatif dengan ide-ide itu.


4. Melibatkan diri dalam hal-hal yang baru

Ketika mengeksplorasi hal-hal baru, kita kadang-kadang akan merasa seolah terlahir kembali dengan pengalaman baru yang masuk ke memori kita. Cobalah untuk terbuka dan mencoba hal-hal yang baru, seperti traveling, menghadiri konser musik, menjelajahi dunia seni atau bahasa asing. Hal sederhana seperti ini akan mendorong kita untuk mempertahankan kepolosan dan rasa penasaran yang hilang saat tumbuh dewasa.


5. Mencari hobi

Cari kegiatan hobi yang lucu dan menyenangkan yang mungkin kita lewatkan di masa dewasa. Misalnya, menggambar, mewarnai, atau menonton kartun dan film animasi. Kita bisa memilih kegiatan yang membuat kita rileks namun tetap menyehatkan kreativitas kita.

 


Dalam kehidupan yang diisi dengan tuntutan dan responsibilitas, inner child selalu menjadi sumber kekuatan dan keceriaan. Kembali menghubungkan dengan inner child dan menjaga hubungan yang positif adalah langkah kecil yang dapat membawa dampak besar pada hidup kita. Memelihara hubungan ini dapat membantu kita menemukan kembali kebahagiaan dan kebebasan dalam hidup serta memperkuat koneksi dengan diri sendiri dan orang lain.

Jadi, mari kita semua mencoba mengenali kembali inner child kita. Cobalah untuk mengajak mereka bermain keluar dan memberikan kebahagiaan pada diri kita sendiri. Memberikan perlakuan yang baik pada inner child kita, setidaknya mengurangi beban yang kita tanggung sehari-hari. Hal yang paling terpenting, jangan biarkan luka inner child-mu tetap terabaikan. Mari kita merangkul sisi kecil dalam diri kita dan sekali-kali melihat kehidupan dalam pandangan versi inner child kita!


You Might Also Like

0 komentar

Translate

Pojok Petal Archive

Counter

Subscribe